Biografi Jendral Sudirman

Arni Anastasiya
XI IPA 1/07
SMAN 3 Bantul

Biografi Jenderal Sudirman

1. Ulasan Singkat
Jenderal Sudirman adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Purbalingga. Beliau merupakan panglima besar Tentara Nasional Indonesia yang pertama dan seorang perwira tinggi pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Jenderal Sudirman lahir dari pasangan Karsid Kartawiraji dan Siyem tepatnya pada tanggal 24 Januari 1916 di Bodas Karangjati, Rembang, Purbalingga. Saat berusia 6 tahun, ayahnya meninggal. Ia kemudian diadopsi oleh pamannya, Raden Cokrosunaryo.
Pada akhir 1916, Sudirman pindah ke Cilacap. Ia membantu mendirikan cabang Hizbul Wathan, sebuah organisasi Kepanduan Putra milik Muhammadiyah, kemudian ia menjadi guru di sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap. Kemampuannya dalam memimpin dan berorganisasi serta ketaatannya dalam Islam menjadikannya dihormati oleh masyarakat. Saat usianya masih 31 tahun ia sudah menjadi seorang jenderal. Ia melawan Belanda dengan berperang gerilya meskipun dalam keadaan sakit.

2. Biodata
Nama Lahir : Raden Soedirman
Nama Lain : Jenderal Sudirman
Tempat Lahir : Bodas Karangjati, Rembang, Purbalingga
Tanggal Lahir : 24 Januari 1916
Agama : Islam
Profesi : Tentara Nasional Indonesia
Wafat : Magelang, 29 Januari 1950 (umur 34 tahun)

Kehidupan Awal :
Jenderal Sudirman lahir dari pasangan Karsid Kartawiraji dan Siyem tepatnya pada tanggal 24 Januari 1916 di Bodas Karangjati, Rembang, Purbalingga. Ia diberi nama Soedirman oleh pamannya yang bernama Cokrosunaryo. Saat Sudirman berusia enam tahun, ayahnya meninggal dunia. Kemudian Cokrosunaryo mengadopsi Sudirman. Ia diajarkan beretika dan tata krama yang baik, serta diajarkan untuk hidup dalam kesederhanaan. Beliau adalah anak yang taat pada agama.
Saat berusia tujuh tahun, Sudirman bersekolah di Sekolah Pribumi (Hollandsch Inlandsche School), namun ia pindah ke Sekolah Taman Siswa, sekolah yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara. Kemudian melanjutkan sekolah menengah di Wirotomo. Kemudian ia melanjutkan ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo.
Setelah Cokrosunaryo pensiun sebagai camat pada akhir 1916, Sudirman tinggal keluarganya ke Manggisan, Cilacap. Ia membantu mendirikan cabang Hizboel Wathan, sebuah organisasi Kepanduan Putra milik Muhammadiyah, kemudian ia menjadi guru di sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap. Pada tahun 1936 Sudirman menikah dengan Alfiah, ia dikarunia tujuh orang anak.

Pendidikan Militer di Tentara Pembela Tanah Air (PETA) :
Pada tahun 1944, Sudirman diminta untuk bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA), merupakan kesatuan militer yang dibentuk oleh Jepang pada tanggal 3 Oktober 1943 untuk membantu Jepang dalam menghalau serangan sekutu. Sudirman mulai masuk dan berlatih di Bogor, Jawa Barat. Ia dijadikan sebagai komandan dan dilatih oleh perwira dan tentara Jepang, para tentara dipersenjatai dengan peralatan yang disita dari Belanda. Setelah empat bulan pelatihan, ia diangkat sebagai Komanda Batalyon di Kroya, Banyumas, Jawa Tengah. Ketika itu, Sudirman memprotes tindakan tentara Jepang yang berbuat sewenang-wenang dan bertindak kasar terhadap anak buahnya. Karena sikapnya itu, dirinya pernah hampir dibunuh oleh tentara Jepang.

Revolusi Nasional :
Setelah Indonesia merdeka, dalam suatu pertempuran dengan pasukan Jepang, Sudirman berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas. Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Melalui Konferensi TKR tanggal 2 November 1945, ia terpilih menjadi Panglima Besar TKR. Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1945, pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden.

Ketika pasukan sekutu datang ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang, ternyata tentara Belanda ikut. TKR akhirnya terlibat pertempuran dengan tentara sekutu. Pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Sudirman terlibat pertempuran melawan tentara sekutu di Ambarawa. Pada tanggal 12 Desember 1945, dilancarkanlah serangan serentak terhadap semua kedudukan sekutu. Pertempuran yang berkobar selama lima hari itu akhirnya memaksa pasukan sekutu mengundurkan diri ke Semarang.
Pada tanggal 5 Oktober 1948, setelah perayaan hari jadi TNI, Sudirman pingsan. Setelah diperiksa oleh dokter, ia didiagnosis mengidap tuberkulosis (TBC). Pada akhir Oktober, ia dibawa ke Rumah Sakit Umum Panti Rapih dan menjalani pengempesan paru-paru kanan. Pada tanggal 19 Desember, Belanda melancarkan Agresi Militer Kedua untuk merebut ibu kota Yogyakarta. Lapangan udara di Maguwo berhasil diambil alih oleh Belanda. Sudirman yang menyadari serangan itu kemudian memerintahkan stasiun RRI untuk menyiarkan pernyataan bahwa para tentara harus melawan karena mereka telah dilatih sebagai gerilyawan.

Perang Gerilya
Sudirman pergi ke rumah dinasnya dan mengumpulkan dokumen-dokumen penting, lalu membakarnya untuk mencegah dokumen tersebut jatuh ke tangan Belanda. Bersama sekelompok kecil tentara dan dokter pribadinya, ia mulai bergerak ke arah selatan menuju Kretek, Parangtritis, Bantul. Selama berada di Kretek, Sudirman memberikan perintah kepada tentaranya agar menyamar ke kota yang telah diduduki oleh Belanda untuk melakukan pengintaian.
Setelah beberapa hari di Kretek, ia dan kelompoknya melakukan perjalanan ke timur di sepanjang pantai selatan menuju Wonogiri. Sadar bahwa Belanda sedang memburu mereka, pada tanggal 23 Desember ia memerintahkan pasukannya untuk melanjutkan perjalanan ke Ponorogo. Di Ponorogo, mereka berhenti di rumah seorang ulama yang memberikan sebuah tongkat untuk Sudirman yang membantunya berjalan, meskipun Sudirman terus dibopong dengan menggunakan tandu di sepanjang perjalanan. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke timur.
Pada tanggal 27 Desember, Sudirman dan anak buahnya bergerak menuju Desa Jambu dan tiba pada 9 Januari 1949. Di sana, ia bertemu dengan beberapa menteri yang tidak berada di Yogyakarta saat penyerangan. Sudirman berjalan ke Banyutuwo sambil memerintahkan beberapa tentaranya untuk menahan pasukan Belanda.
Di Banyutuwo, mereka menetap kurang lebih satu minggu. Namun, pada 21 Januari, tentara Belanda mendekati desa. Ia dan rombongannya terpaksa meninggalkan Banyutuwo. Kurang lebih selama tujuh bulan ia berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lainnya dan dari daerah satu ke daerah yang lainnya.
Sudirman terus berjuang melawan penyakit yang dideritanya TBC dengan melakukan pemeriksaan di Panti Rapih. Ia menginap di Panti Rapih pada tahun 1949, dan keluar pada bulan Oktober, ia lalu dipindahkan ke sebuah sanatorium di dekat Pakem. Sudirman dipindahkan ke sebuah rumah di Magelang pada bulan Desember 1949.
Sudirman wafat di Magelang pada tanggal 29 Januari 1950. Keesokan harinya, jenazah Soedirman dibawa ke Yogyakarta, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki.

3. Hal yang Diteladani dari Tokoh
Pantang menyerah.
Taat terhadap Tuhan.
Cinta terhadap tanah air.
Rela berkorban.

4. Hal menarik & istimewa
Melakukan perang gerilya dalam keadaan sakit (salah satu paru parunya tidak berfungsi).
Dipercaya memimpin Divisi Banyumas dengan pangkat kolonel.
Menjadi  Panglima Besar dengan pangkat jenderal saat berusia 31 tahun.
Dilantik sebagai Jenderal oleh Presiden Soekarno karena prestasinya.
Mendapat gelar Jenderal Besar Anumerta dengan bintang lima.

Komentar